Makassar Penyambutan Mahasiswa Baru (Maba) Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2026 diwarnai aroma perlawanan yang tajam. Area parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Sektor Gunung Sari tak lagi sekadar menjadi tempat memarkir kendaraan, melainkan telah disulap menjadi mimbar protes terbuka (15/08).
Mahasiswa membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “TOLAK DEKAN OTORITER !!!” dan “OTORITAS TANPA NURANI HANYALAH TIRANI”, sebuah ucapan selamat datang yang secara lugas menyampaikan krisis demokrasi di dalam fakultas. Illustrasi rantai yang tergambar pada spanduk “SELAMAT DATANG MABA FIS-H 2026” menjadi representasi visual dari keresahan kolektif mahasiswa yang menolak terbelenggu.
Salah satu inisiator gerakan dari kalangan mahasiswa, yang menolak disebutkan namanya secara lengkap (inisial MA), mengungkapkan bahwa aksi pembentangan spanduk ini adalah puncak dari kemarahan terhadap gaya kepemimpinan Dekan baru FIS-H.
“Inisiatif gerakan ini muncul dari keresahan kolektif mahasiswa FIS-H terhadap kepemimpinan dekan baru yang memperlihatkan wajah otoritarianisme,” tegas MA saat diwawancarai di lokasi, Sabtu (15/8).
Lebih lanjut, MA menyoroti bagaimana produk hukum dan keputusan dekanat saat ini sangat merugikan mahasiswa dan dibuat secara tertutup.
“Kebijakan yang dihasilkan tidak lagi berpihak kepada kepentingan mahasiswa, dibuktikan dengan beberapa kebijakan yang tidak memberikan ruang partisipasi kepada mahasiswa dan cenderung sepihak,” ungkapnya.
Sikap antikritik dan represif birokrasi ini, menurut MA, paling nyata terlihat dari upaya sistematis untuk membungkam kelembagaan mahasiswa. Birokrasi dituding sengaja memutus rantai penyaluran aspirasi dari akar rumput.
“Mulai dari tidak dilantiknya LK fakultas tanpa dasar aturan yang jelas, di mana berdampak pada penyaluran aspirasi mahasiswa terhadap birokrasi,” kecam MA.
Puncak dari kebijakan sepihak tersebut adalah upaya restrukturisasi lembaga tanpa melibatkan elemen mahasiswa yang bersangkutan.
“Juga munculnya kebijakan penataan mengenai lembaga kemahasiswaan di FIS-H tanpa ruang partisipasi terbuka untuk lembaga kemahasiswaan dalam merumuskan kebijakannya,” pungkas MA menutup penjelasannya.
Spanduk berlumur warna merah darah yang berkibar di area parkir kampus ini kini menjadi peringatan keras. Pesan ini bukan hanya ditujukan bagi jajaran pimpinan dekanat, tetapi juga ditujukan sebagai alarm kesadaran bagi mahasiswa baru bahwa di balik gedung-gedung pencetak pendidik, terdapat suara-suara kritis yang sedang diberangus oleh otoritas.
Hingga naskah ini diturunkan, spanduk perlawanan tersebut masih membentang kokoh di pelataran parkir FIS-H, menanti jawaban dari birokrasi yang masih memilih bungkam di balik meja kekuasaan.
